Sabtu, 04 Agustus 2007

'JILBAB GAUL': Ketika Budaya Pop Mendefinisikan Nilai Agama

Sudah dimuat di jurnalnya teman-teman IAIN 2003


‘JILBAB GAUL’ :
KETIKA BUDAYA POP MENDEFINISIKAN NILAI AGAMA
Santi Indra Astuti, S.Sos.

Sampai akhir dekade 80an, jilbab masih dipandang sebelah mata. Wanita berjilbab identik dengan kekolotan dan kekunoan. Siswa, mahasiswa atau dosen berjilbab identik dengan fundamentalisme yang diterjemahkan sebagai fanatisme radikal yang harus dicurigai atau dibabat habis. Sementara dalam dunia kerja, jilbab diidentikkan dengan subyektivitas yang tidak profesional, kinerja yang tidak produktif, dan performance yang tidak ‘menjual,’ sehingga wanita berjilbab dilarang masuk ke dalam lingkungan kerja, dan bila memutuskan berkarir kerap dihambat dengan alasan-alasan struktural.
Kini, wanita berjilbab tak kurang jumlahnya dibandingkan, katakanlah, tahun 1970an ketika busana mini sedang in, dan kala jilbab atau kerudung dianggap norak serta kampungan. Sejumlah institusi belakangan secara terbuka memberikan tempat bagi mereka yang berkeinginan untuk berjilbab sembari berkiprah dalam dunia kerja maupun dalam menuntut ilmu. Banyak public figure, mulai dari artis, pejabat papan atas, dan pesohor lainnya mengenakan jilbab dan tak ragu lagi berbusana muslim dalam berbagai acara di ruang publik. Fenomena ini muncul seiring dengan kian banyaknya berbagai organisasi, komersial maupun non komersial, yang ramai-ramai melembagakan diri di bawah label institusi keislaman. Pemunculan lembaga-lembaga keuangan syariah, misalnya, menjadi salah satu contoh yang aktual.
Berdasarkan gejala-gejala di atas, sepintas, bisa disimpulkan menguatnya spiritualitas Muslim. Tapi, apakah ini merupakan fenomena spiritualitas yang betul-betul Islami, atau sekadar berjubah Islami, itu masih tanda tanya besar dan harus benar-benar diperiksa sebelum disimpulkan dan disikapi serius. Pada momen-momen tertentu, seperti Ramadhan, media massa dan masyarakat memang secara serempak seakan bahu-membahu memunculkan sinergi spiritualitas yang luarbiasa. Tapi di kali lain, media dan masyarakat tidak kalah kompak dalam berkolaborasi untuk menghadirkan serta merayakan ‘Goyang Inul’ seheboh-hebohnya. Sebuah paradoks kita temukan di sini, dan ternyata, memang itulah fenomena khas yang telah diramalkan oleh para futurolog ketika abad Modern berlalu digantikan abad Posmodern. Sebuah masa ketika segala sesuatu bisa dijual dalam kerangka kapitalisme modern. Suatu kurun tatkala budaya pop menjadi kata kunci yang ada di balik semua ini.

Hedonisme Itu
Belum pernah sesungguhnya busana muslim menempati posisi terhormat seperti sekarang. Busana muslim menjadi satu trend fashion tersendiri. Ikatan Perancang Busana Muslim Indonesia (IPBMI) pun berdiri lewat launching yang gemebyar dan mengukuhkan eksistensi mereka dengan berpameran sepanjang tahun. Sejumlah butik busana Muslim muncul melabelkan harga dan pilihan yang konon ‘eksklusif’. Limited edition. Just for you.
Kendati demikian, belum pernah juga terjadi suatu paradoks seperti yang kita alami sekarang ini. Busana Muslim menempati posisi terhormat, namun sekaligus juga menyeret orang memasuki konsumerisme khas kapitalisme yang gila-gilaan. Busana Muslim dapat ditemukan di Pasar Baru dengan harga murah. Namun, di sisi lain, Busana Muslim juga banyak diburu di butik—yang bekas, milik pesohor, artis, atau pejabat, bahkan laku dilelang—dengan harga belasan juta rupiah perpotong! Sikap zuhud yang menyertai spiritualisme Islami bertabrakan dengan gaya hidup mewah yang disimbolkan melalui konsumerisme. Spiritualisme di sini menjadi hedonisme, atau mungkin inilah gejala yang disebut Idi Subandy Ibrahim (2002) sebagai “spiritualisme konsumerisme”[1].
Apa yang sesungguhnya terjadi? Sederhana saja. Jika berurusan dengan istilah ‘konsumerisme,’ industri kapitalis pasti ada di belakang semua ini, lengkap dengan budaya pop sebagai kata kuncinya.
Budaya pop memang memasuki segala hal dalam kehidupan kita, mengonsep pemikiran dan laku budaya masa kini. Termasuk pula mengonsep spiritualitas dan religiusitas manusia postmodern. Mengorupsinya, lantas memberinya corak ideologi konsumerisme kapitalisme era posmodern, ketika slogan yang berlaku adalah create your own—create your own CD, create your own market, create your own fashion[2]. Untuk urusan spiritualitas, gejala yang muncul adalah perayaan slogan create your own religion! Maka, ketika budaya pop diberi kesempatan mendefinisikan spiritualitas dan religiusitas manusia, muncullah “hedonisme spiritual”. Yaitu, gejala yang terjadi ketika “konsumsi spiritualitas” bertemu dengan “spiritualitas konsumsi[3].”
Hedonisme spiritualitas dicurigai mengorupsi spiritualitas dan religiusitas. Inilah yang terjadi tatkala kita melihat jilbab dipadukan dengan busana ketat hingga lekuk liku bentuk badan pemakainya terlihat jelas. Atau, melihat wanita berjilbab dengan pundak, leher, bahkan permukaan panggul pemakainya nongol tanpa sungkan. Banyak kebingungan tak terungkapkan muncul tatkala mode ber‘jilbab’ baru dipopulerkan-cara berkerudung yang hanya menutupi rambut (dengan anak rambut muncul sebagai pemanis), tapi membuka telinga dan leher. Atau, ketika jilbab dipadukan dengan rok panjang berbelahan sebetis ditambah blouse ketat sesiku. Sayangnya, kebingungan ini tidak diungkapkan, karena rasa pakewuh, dan ketakutan dianggap melanggar privasi orang lain. Pun tidak dibicarakan atau didiskusikan, karena kuatir dianggap comel dan diteriaki mind your own business! Pada gilirannya mode semacam ini ditiru di mana-mana, dan menjadi hal yang ‘biasa’ (kitapun ‘terbiasa’ melihatnya!). Inkonsistensinya dengan makna hakiki berjilbab pun lantas tidak kita pertanyakan kembali.

Gen X
Selain industri kapitalis, siapa sesungguhnya yang mengusung budaya macam ini? Jawabannya adalah komunitas budaya pop, yang secara sebarang dikukuhkan sebagai Generasi X (‘Gen X’). Sebagai suatu komunitas yang unik dan khas, Gen X memiliki karakteristik tersendiri. Tom Beaudoin, dalam bukunya “Virtual Faith”[4] menyebut serangkaian karakteristiknya, di antaranya adalah mistrust, sacred nature of experience, dan suffering[5].
Mistrust, ditandai dengan ketidakpercayaan GenXers yang mendalam terhadap institusi religius karena dianggap sudah terlalu banyak memanipulasi simbol-simbol kesalehan. Gen X lantas mengabaikan eksistensi institusi religius, lalu merumuskan spiritualitas mereka sendiri yang campur aduk. Campur aduk ini tidak hanya mengkombinasikan gagasan Ilahiah pelbagai agama (yang sesungguhnya punya perbedaan posisi ontologis dan epistemologis yang prinsipil). Tetapi juga mencampuradukkan simbol dan esensi. Pada gilirannya, muncullah gejala hiperrealitas, yaitu ketika imaji dipercaya lebih nyata ketimbang esensi. Dan semua itu kian tersuburkan manakala imaji dan simbol agamalah –bukan nilai esensial— yang menjadi way of life. Apa yang mereka lakukan, diungkap Beaudoin, “ … forever recombining and forming new spiritualities.”
Sacred nature of experiece, memperlihatkan pemujaan Gen X terhadap pengalaman hidup dalam suatu konteks religius, serta memperlihatkan keterpesonaan mereka terhadap pengalaman pada berbagai aspek human and divine. Di sinilah kita perlu memeriksa bersama apa sesungguhnya makna religiusitas dan spiritualitas, dan dalam konteks macam apa apa religiusitas serta spiritualitas dimaknai oleh Gen X.
Gen X, melalui pengalaman spiritual mereka, mempercayai kehadiran Yang Maha Kuasa dalam segala bentuknya. Pengalaman spiritual itu dirasakan ketika pada satu titik mereka mendapati atau mengalami peristiwa yang didefinisikan novelis-filosof Joostein Gardner lewat tokoh Sophie[6] “ … bagai setitik air di tengah samudera … suatu peristiwa kosmik.” Suatu peristiwa, ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang mencerminkan relasi antara manusia (dengan segala keterbatasannya) dengan entitas Ilahiah (dengan ketidakterbatasannya).
Pengalaman spiritual memang memberikan pencerahan. Yang dikritik dari budaya pop adalah ketika budaya pop mereduksinya menjadi paket-paket siap saji secara instant. Padahal kita tahu, pencerahan semacam itu tidak datang seketika, bahkan bagi seorang Rasul terpilih sekalipun. Ketidaksabaran, impatient, memang menjadi ciri lain dari generasi pengusung budaya pop. Yang mengkhawatirkan pula, para penganut budaya pop tersebut menjadikan pengalaman spiritual paket instant itu sebagai formula dasar ‘agama baru’ yang dipuja-puja. Esensi agama sesungguhnya, tidak disentuh.
Suffering, Gen X selalu merasa pihaknya yang paling menderita. Mereka merasa menderita ‘kekosongan’ jiwa di tengah gempuran teknologi digital yang tak henti memperbarui kecanggihannya. Mereka merasa menderita ‘kelelahan’ jiwa di tengah tuntutan pasar global dan desakan industri kapitalisme yang terus berkembang. Namun, alih-alih mencari suaka pada agama, mereka melarikannya pada pengalaman-pengalaman spiritual sesaat, instan, siap saji.
Tidak semua GenXer memenuhi karakteristik di atas. Namun, tidak sedikit pula yang mengabaikan akar masa lalu dan menciptakan entitas hibrid guna memuaskan selera mereka untuk self exploitation dan self individualism. Menurut Carver Yu, President of China Graduate School of Theology, zaman kita ini memang merupakan “an age of narcisstic fabrication of self and reality.”[7] Sebuah kurun, di mana kita merajut sendiri narasi tentang diri dan realitas, dengan semangat narsis—semangat mendewakan diri. Situasi ini disuburkan oleh munculnya fenomena cyberspace. Cyberspace merupakan suatu lingkungan digital yang ideal untuk mengekspresikan diri. Teknologi digital memungkinkan kita untuk mendefinisikan segala sesuatu, termasuk mendefinisikan standar-standar religius sesuai dengan apa yang kita maui.
Fenomena ‘jilbab gaul’ bisa jadi muncul dari sini. ‘Jilbab’ sebagai syariat agama dalam terminologi ‘gaul’ menabrak rambu-rambu perlindungan aurat dan didefinisikan sesuai kemauan sendiri. Pendefinisian ini merujuk pada trend fashion yang distandarisasi oleh pusat-pusat mode yang notabene tidak berbudaya Islami—mulai dari pusat mode formal seperti Milan, London, New York, sampai yang informal seperti layar MTV. Batasan aurat tidak dipertanyakan secara kritis, dan malah cenderung ditinggalkan. Ini menunjukkan betapa dalil-dalil agama telah distandarisasi kembali dalam kerangka budaya pop. Dan disinilah korupsi itu terjadi.

Generasi Hibrid
Budaya pop dan Gen X, dengan bantuan cyberspace dan kecanggihan teknologi digital, tiada lain juga merupakan manifestasi generasi hibrid dalam kehausan mereka untuk mengekspresikan diri. Konsekuensinya, sebuah fenomena kultural baru muncul : the age of hybrids[8]. Tak beda jauh dengan Gen X, Hybrid Kids adalah generasi yang mengeksploitasi selera menyangkut diri dan individualisme mereka. Dengan mudah mereka memilih gagasan-gagasan dan citra budaya pop dari sebuah katalog, menciptakan kelompok-kelompok sosial hybrid dan bentuk-bentuk hybrid dari entertainment in real-time di mana saja, kapan saja[9]. Jika Gen X, dari segi demografis, terdiri dari para dewasa kelahiran 60-an hingga 70-an, maka hybrid kids saat ini berusia antara 16 hingga 24 tahun.
Generasi hibrid tumbuh bersama dengan merajalelanya terpaan media massa dan Internet. Mereka juga tumbuh dengan self-determination dan individualitas yang kuat, disetir oleh suatu kebutuhan konstan guna me-reinvent diri tanpa henti. Kebutuhan untuk merobek-robek sesuatu yang dinilai ‘ketinggalan zaman’ dan membangun ‘yang baru’ ini bahkan sampai pada taraf paranoia. Siklus macam ini mereka ciptakan tanpa henti, berulang setiap saat, dalam tempo yang juga sangat cepat, hingga yang terjadi adalah kanibalisasi ‘the old’, alih-alih substitusi yang elegan dan alamiah didasarkan pada kebutuhan.
Generasi hybrid secara berkesinambungan diterpa oleh media massa dan produk-produk digital yang memungkinkan mereka mengkreasi apapun yang mereka inginkan. The age of hybrids sendiri lahir sebagai konsekuensi dari media massa dan the Net yang menawarkan ‘teater’ maya pada setiap orang ‘to glamorize themselves[10]’. Apa yang mereka promosikan adalah campuran antara spiritualisme Timur, New Age, humanisme, relativisme, dan gagasan-gagasan posmo sebagai hasil dari keberagaman, toleransi serta filosofi yang saling bertentangan yang membentuk sebuah lingkaran penuh di balik jubah cita-cita “ ... making the world a better place to live.[11]
Konsep hybridization adalah membuat orang merasa nyaman dengan munculnya pelbagai gagasan yang saling bertentangan di abad ini, manakala dunia menjadi a free marketplace of ideas. Caranya adalah dengan memulai sesuatu yang baru, betul-betul berbeda, dengan modus mengintegrasikan dan memadukan gagasan-gagasan untuk mengkonstruksi realitas kita sendiri. Faith Popcorn adalah julukan bagi gado-gado baru ini. “Spirituality and religion will become more self-defined. There will be a morphing of religious practices and denominations. In essence, people will mix and pour their own religious cocktail.[12]” Berdasarkan konsep ini, generasi hybrid lantas merumuskan hybrid spirituality[13] sesuai dengan identitas pribadi yang dimaui.
Tentu saja, dalam kondisi masyarakat pluralis macam sekarang, adalah penting untuk menghormati gaya hidup setiap budaya. Kendati demikian, dalam dunia digital yang berputar cepat dengan hybrid, sangat sulit untuk membedakan yang maya dari yang nyata, fakta dari fiksi, kebenaran versus versi yang direkayasa, atau siapa yang harus dipercayai dan yang tidak bisa dipercaya. Manakala slogan yang berlaku adalah create your own reality, pada akhirnya orang jadi sulit membedakan mana aturan agama sesungguhnya, mana versi yang direkayasa untuk memuaskan keinginan diri sendiri. Esensi dan simbol saling dipertukarkan secara bebas. Dalam kaitannya dengan fenomena ‘jilbab gaul’, kita bisa melihat bahwa jilbab pada akhirnya direduksi sekadar menjadi simbol kesalehan yang citranya direpresentasikan atau ‘dijual’ ke ruang publik untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Kesan itulah yang dikejar. Makna esensial ‘jilbab’ dan ‘hijab’ itu sendiri sama sekali tidak tersentuh.

Autentik vs. Tidak Autentik
Sebagai medium untuk mengekspresikan diri, tidak ada yang salah dengan budaya pop. Yang sulit diterima adalah manakala budaya pop digunakan semaunya untuk mendefinisikan spiritualitas dan religiusitas kita. Islam, sebagaimana agama lain, tidak pernah berada di wilayah abu-abu. Semua serba hitam putih. Masalahnya, generasi masa kini –Gen X-kah, atau The Hybrid Kids—dengan seenaknya memainkan artefak-artefak kesalehan dan mengeksploitasinya sekehendaknya.
Korupsi spiritualitas semacam ini bukan kecemasan paranoid para konservatif Muslim. Masyarakat agama lain pun menghadapi permasalahan serupa. Pada tahun 2000, Stanley J. Grenz[14], seorang rohaniwan liberal mencatat, 8 hingga 10 warga Kanada mengaku percaya pada Tuhan, 82% menilai dirinya “very spiritual,´ dan sekitar 50% melaporkan bahwa kehidupan mereka menjadi lebih spiritual dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kendati demikian, kurang dari 25% mengaku mendatangi gereja secara teratur. Survai atas para pelajar di kelas religius di University of San Fransisco juga memberikan hasil yang tak kurang mengagetkan: 80% mengklaim dirinya tidak religius, namun 80% menganggap dirinya tergolong spiritual. Tak heran jika Beaudoin lantas menyimpulkan bahwa generasi macam ini hanya mencomoti simbol-simbol, nilai, dan ritual dari berbagai tradisi agama dan mengkombinasikannya menjadi spiritualitas pribadi mereka: “They see this spirituality as being far removed from ‘religion’ which they frequently equate with a religious institutions.” Dae Ryeong Kim[15], dalam berbagai artikelnya yang menyoroti fenomena budaya pop ‘that has gone religious’ menilai, “... spiritualitas tanpa religiusitas—tanpa faith adalah nonsense!”
Lalu, dalam mencari pijakan, mana yang harus kita percayai? Bukankah kooptasi institusi keagamaan terhadap simbol keagamaan itu benar adanya, dan memang betul-betul terjadi? Ke mana kita berpijak ketika kepercayaan terhadap institusi agama menjadi bahan tertawaan sekaligus tindakan yang membahayakan keselamatan diri menuju akhirat?
Jawabannya harus dikembalikan pada pertanyaan sejauh mana kita telah berjuang menelusuri ihwal keautentikan konsep yang diperkarakan. Ketika simbol dan tanda dimainkan menutupi esensi sesungguhnya, maka tidak bisa lain, yang harus dilakukan adalah mencari keautentikan. Pencarian keautentikan ini niscaya juga akan menangkal individualisme dan self-exploitation yang berlebihan.
Seperti diungkapkan Lee (2000)[16], dalam pengertiannya yang paling umum, keautentikan individu berarti bahwa “Saya sebagai manusia haruslah menjadi diri sendiri, dan bukan menjadi orang lain. Saya tidak perlu mengikuti petunjuk luar soal perilaku etis dan kesuksesan, tapi cukuplah dibimbing oleh insting batiniah diri saya sendiri.”
Lalu, bagaimana keautentikan dikaitkan dengan kebebasan individu? Sejauh mana individu diberi kemerdekaan untuk merumuskan dirinya sendiri? Dibimbing oleh insting batiniah sendiri ternyata bukan berarti bertindak sebebas-bebasnya. Lee lebih jauh berargumen bahwa mencari keautentikan berarti menelusuri apa yang ‘sebenarnya’ ketimbang apa yang tampak, yang fundamental ketimbang yang superfisial, yang asli ketimbang yang tambahan, yang benar ketimbang yang salah. Tindakan saya yang autentik, dengan demikian, haruslah mencerminkan diri saya, pilihan saya, kondisi saya, dan karena itu siapa saya ‘yang sebenarnya.’ Bukan saya yang saya ingin pikirkan, atau yang saya inginkan dari orang lain tentang diri saya (Lee, 2000 : 199).
Jelas, keautentikan meniscayakan adanya suatu standar yang tegas. Pencarian pada keautentikan menargetkan seperangkat standar yang melampaui landasan penilaian yang telah ada sebelumnya, atau mengimplikasikan suatu kerangka rujukan di mana standar-standar itu sendiri dapat diterima atau ditolak. Kemungkinan penerimaan dan penolakan ini memperlihatkan bahwa toleransi yang dibebaskan seluas-luasnya dalam konsep budaya pop sesungguhnya berada dalam batas-batas tertentu.
Suatu teori keautentikan niscaya memusatkan perhatian pada keunikan setiap individu. Teori itu mengunggulkan budaya sebagai kekuatan utama dalam membentuk manusia, tapi ia juga harus menunjukkan landasan bagi kemencukupan manusia dalam menjustifikasi keyakinan akan kemampuan manusia dalam membentuk kehidupan manusia di dunia ini. Azas inilah yang tidak boleh dilupakan, utamanya, yang berkaitan dengan landasan bagi kemencukupan itu[17].
Jilbab gaul bukan masalah mode atau trend baru. Gejala ini, juga fenomena sejenis, adalah ihwal perkara yang terjadi tatkala budaya pop dibiarkan mendefinisikan nilai-nilai esensial dalam Islam. Siapapun boleh berargumen, bahwa agama dan penafsirannya bersifat kontekstual. Namun, sampai kapanpun, dalil agama tidak akan pernah bisa dikompromikan dengan selera budaya pop. Agama, bagaimanapun, memang bukan tentang perasaan atau cerapan indera atau bahkan pengalaman. Melainkan, “ ... about having a standard by which to live by[18].” Standar macam apa? Jawabannya adalah “A standard where we know emphatically who is in charge (GOD), what we believe and stand for, and what our purpose is in life ...[19]”ddddd

Santi Indra Astuti, S.Sos.
Staf Pengajar Bidang Kajian Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Univ. Islam Bandung UNISBA.
[1] Ibrahim, Idy Subandy. Dunia Simbolik dan Gaya Hidup dalam Beragama, dalam Mediator Vol. 3, No. 1, Th. 2002.
[2] The Hybrid Sensation, 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.
[3] Ibrahim, Idy Subandy. Dunia Simbolik dan Gaya Hidup dalam Beragama, dalam Mediator Vol. 3, No. 1, Th. 2002.
[4] Dikutip dari artikel berjudul “Preparing Christians for What’s to Come: Is Pop Culture Defining Our Spirituality?”. 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.
[5] Karakteristik Gen X lain yang disinggung Tom Beaudoin adalah ambiguity, irreverence, heresy, hingga sensual sexuality.

[6] Gardner, Joostein. 2000. Dunia Sophie. Mizan, Bandung.
[7] Kim, Dae Ryeong. True Relevancy of Theology to Culture: Carver Yu. http://www.suite101.com/article.cfm/christian_gospel_culture/92943
[8] The Hybrid Sensation, 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.
[9] Ellen Campbell, dari Bangs Reed Group yang mencermati persoalan dunia di masa depan mengungkapkan, hybridization adalah gejala khas posmodernisme yang menyatukan tiga konsep : hedonism, individualism, dan responsibility. Mantra kembar mereka adalah “What’s in it for me?” dan “Don’t trust anyone over 30’s…”
[10] The Hybrid Sensation, 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.
[11] Ibid.
[12] The Morphing of Religious Practices , 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.
[13] Dikutip dari artikel berjudul “Preparing Christians for What’s to Come: Is Pop Culture Defining Our Spirituality?”. 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.

[14] Kim, Dae Ryeong. The Spiritual Quest of Pop Culture Generation. http://www.suite101.com/article.cfm/christian_gospel_culture/85892
[15] Pendapat Kim bisa dilihat pada artikel-artikelnya dalam situs http://www.suite101.com/article.cfm
[16] Lee, Robert.D. Mencari Islam Autentik: Dari Nalar Puitis Iqbal hingga Nalar Kritis Arkoun. Mizan, Bandung, Feb 2000.
[17] Apa sesungguhnya landasan bagi kemencukupan itu? Dalam Islam, segalanya sudah jelas ketika dalam Al Maidah ayat 48 Allah SWT. mewahyukan, “... dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu...“
[18] Dikutip dari artikel berjudul “Preparing Christians for What’s to Come: Is Pop Culture Defining Our Spirituality?”. 2001+: A Spiritual-Technological Odyssey. Produced by Christian Leadership Ministries.
[19] Ibid.

1 komentar:

hasil tulisan saudari sangat menarik dan disertakan dengan bahan rujukan.. jangan berhenti berkarya melalui blog.. teruskan perjuangan..