Minggu, 05 Agustus 2007

Oxford, Kota Pendidikan yang Memuliakan Novelis Kebanggaannya

Oxford: Kota Pendidikan yang Memuliakan Novelis Kebanggaannya
Oleh : Santi Indra Astuti, S.Sos., M.Si.

Ada dua Oxford, setidaknya, yang tercantum dalam peta dunia. Pertama, Oxford di Inggris. Sebuah kota dengan perguruan tinggi kelas dunia yang terkenal angker saking tingginya standar pendidikannya. Oxford kedua terletak di negara bagian Mississippi, Amerika Serikat. Menariknya, sebagaimana diakui oleh Mayor Richard Howorth, sang walikota, nama Oxford memang dipilih oleh para pendiri kota ini lantaran disemangati oleh nama besar Oxford di Inggris. Inginnya, Oxford di Mississippi juga menjadi kota pendidikan sebagaimana ‘kembarannya’ di Tanah Britania.

Saya berkesempatan mengunjungi Oxford di Mississippi bersama rombongan peserta Community Leadership Program (CLP), sebuah program kerjasama penguatan leadership dan secondary education yang digagas oleh Heartland International yang bermarkas di Chicago, dan Center for Civic Education di Jakarta. Saat tiba di Oxford, cuaca sangat bersahabat. Maklum, saat itu pertengahan bulan Mei, saatnya spring alias musim semi tiba. Di sana-sini kami melihat petak-petak yang ditumbuhi bunga-bunga aneka warna: daffodil, daisy, mawar, bluebell... sungguh meriah. Oxford sendiri tergolong kota tua di Mississippi. Kotanya kecil saja, penduduknya sekitar 13.000 orang, sebagian besar adalah mahasiswa. Walaupun kini sudah berkembang, secara keseluruhan, Oxford yang dibangun pada tahun 1835 lewat kolaborasi tiga pemilik toko kelontong, tampak mungil dan cantik, dengan bangunan tua semasa Perang Sipil yang masih dipertahankan. Kantor walikota sendiri, yang terletak di muka alun-alun, merupakan bangunan konfederat berbata merah, bertembok tebal, dengan pintu-pintu dan jendela melengkung. Tapi, jangan tanya fasilitasnya. Tak kalah dengan apartemen modern.

City Hall alias Kantor Walikota di Oxford. Bangunan kuno yang masih dipertahankan (www.squarebooks.com)

Kota Pendidikan dan Ole Miss
Kota Oxford di Mississippi pada akhirnya memang berhasil mewujudkan impian para pendirinya, yang menginginkan kota ini tenar sebagai ikon pendidikan. Oxford menjadi tempat University of Mississippi, atau “Ole Miss”, salah satu universitas tertua di Amerika Serikat. Selain berdialog dengan Major Richard Howorth, kami berkesempatan untuk mengunjungi University of Mississippi, sebagai bagian dari pembelajaran mengenai sejarah perjuangan penghapusan politik segregasi di Amerika Serikat. Ya, Ole Miss di tahun 60-an ternyata banyak menyimpan cerita heroik tentang pergolakan anti diskriminasi rasial. Tapi, saya simpan dulu cerita ini berhubung ada hal menarik yang menyambut kami di Ole Miss.

Kami tiba di Ole Miss pada pukul 2 siang. Rerumputan nan hijau terawat, dan pepohonan yang teduh tampak begitu menyejukkan. Gedung-gedung berarsitektur kuno menjadi bangunan tempat perkuliahan di Ole Miss. Biarpun mahasiswanya banyak, ribuan, kampus tampak sepi, kemungkinan karena menjelang libur musim panas. Park, alias taman, terhampar di sana-sini. Di kampus ini jelas tak ada istilah kampus sumpek karena kekurangan ruang publik yang terbuka.

Dua orang menyambut kami di Lyceum—gedung administrasi kampus yang menjadi ikon Ole Miss dan diabadikan sebagai simbol kampus. Annette dan Ray menjadi pemandu tur mengelilingi kampus Ole Miss. Annette adalah mahasiswi semester 3 Fakultas Hukum, sementara Ray adalah pengurus kampus. Yang mengejutkan, kami disambut oleh Sang Dwiwarna yang berkibar di depan Gedung Program Internasional di depan Lyceum! Duh, tak terkira bangganya hati ini. Panitia penyambutan kami memang sengaja mengibarkan Merah Putih untuk menyambut kami. Dari mana Ole Miss punya bendera Indonesia, dalam ukuran formal pula? “Oh, kami punya mahasiswa Indonesia yang bersekolah di sini, program pascasarjana. Setiap mahasiswa yang bukan dari Amerika pasti kami mintai benderanya,” Ray menjelaskan. Saat ini, Ole Miss sudah punya koleksi sekitar 130 bendera asing! Banyakkah warga Indonesia yang bersekolah di sini? “Cukupan... kalau dihitung dengan istri dan anaknya jadi 3 orang,” jawab Ray. Kami tergelak. Bagi yang berminat untuk bersekolah ke sini, masih banyak peluang untuk orang Indonesia!

Annette dan Ray, pemandu kami. Pada latar belakang terlihat Lyceum yang megah, gedung yang menjadi saksi sejarah perjuangan warga Afro-Amerika menuntut persamaan hak dan menghapuskan diskriminasi rasial. (Dok. Pribadi).

Ole Miss atau University of Mississippi menjadi bagian penting sejarah pergolakan hak-hak sipil di Amerika Serikat. Ketika politik segregasi mulai mendapat tentangan di mana-mana, Ole Miss menjadi salah satu lokasi ‘perjuangan.’ Maklum, ketika itu universitas tersebut menjadi lambang supremasi warga kulit putih, karena memegang kuat tradisi pendidikan yang hanya diperuntukkan bagi kaum kulit putih saja. Ketika pemerintah federal di bawah presiden Lyndon B. Johnson menghapuskan undang-undang segregasi, yang antara lain mendesegregasi pendidikan, otomatis Ole Miss harus membuka diri bagi warga Afro-Amerika yang akan menuntut ilmu di sana. Pada titik inilah terjadi pergolakan yang sangat dramatis.

Pergolakan diawali ketika James Meredith, seorang guru Afro-Amerika, mendaftarkan diri ke Ole Miss. Kehadiran Meredith disambut demonstrasi besar-besaran warga kulit putih. Ia diancam akan dibunuh. Bertentangan dengan instruksi Presiden yang menghapuskan politik segregasi, Gubernur Mississippi dan walikota Oxford malah turun tangan secara langsung untuk memerintahkan aparatnya agar menghalangi upaya Meredith dengan membentuk barikade. Akibatnya, selama dua hari Meredith ‘gagal’ menembus Ole Miss. Mendengar insiden ini, Presiden Johnson kemudian mengirimkan National Guard untuk membuka barikade itu. Maka pada hari ketiga, hari terakhir pendaftaran mahasiswa di Ole Miss, terjadilah adegan yang sangat dramatis. Meredith memasuki lorong pendaftaran—di Lyceum!—kanan kirinya dikawal oleh National Guard dengan senapan siap dikokang. Di sekelilingnya, massa yang marah mengamuk nyaris tak terkendali. Bentrok pun tak terhindarkan ketika sniper berdesingan menghantam Lyceum. Syukurlah, singkat cerita, Meredith berhasil mendaftarkan diri. Sejak saat itu, Ole Miss harus membuka pintu lebar-lebar bagi warga kulit hitam. Dan berakhirlah dominasi warga kulit putih dan diskriminasi rasial dalam pendidikan tinggi di University of Mississippi.

Guna mengenang kenekadan James Meredith, di halaman belakang Lyceum, tahun lalu diresmikan patung James Meredith yang melangkah mantap memasuki Ole Miss, menghadap gapura bertuliskan “Courage (keberanian).” Ya, tanpa keberanian dan ketegaran Meredith, mungkin warga kulit berwarna harus menanti lebih lama lagi untuk bisa menjangkau pendidikan tinggi. Tak heran jika James Meredith dan Ole Miss menjadi simbol desegregasi pendidikan tinggi.

Di sinilah James Meredith melangkahkan kaki untuk memasuki University of Mississippi, guna mendobrak politik segregasi dalam pendidikan. Gerbang ini didirikan untuk mengenang tekad dan keberaniannya yang menginspirasi perjuangan warga Afro-Amerika menuntut persamaan hak dengan warga kulit putih. Lihat tulisan di atas gapura: COURAGE. (Dokumentasi: pribadi).

Selain menyimpan cerita heroik seperti tadi, ikon sebagai kota pendidikan agaknya memang dipelihara betul oleh Oxford. Di alun-alun, atau Square yang merupakan pusat kota, ada empat toko buku di setiap sudut. Lainnya adalah restoran, toko baju, toko kartu, toko kelontong. Trotoar maupun toko tidak berjubel dengan barang-barang dagangan, sehingga orang nyaman berjalan-jalan di sepanjang Main Street. Yang mengejutkan, saya tidak menemukan toko cenderamata, atau toko yang menjual cenderamata—tak seperti kota-kota lain yang saya kunjungi di Amerika Serikat. Ketika saya tanya pada pemilik toko buku yang ramah, di mana saya bisa mendapatkan cenderamata khas Oxford, ia agak ragu menjawab, “I’m afraid you can’t find any. Di sini banyak toko buku. Tapi sayang sekali, tampaknya toko yang Anda cari tidak ada,” katanya. Waduh! Saya jadi malu sendiri. Pesan gamblangnya adalah: Oxford ini kota pendidikan, bukan kota turis. Carilah buku di sini, bukan souvenir!

William Faulkner dan Rowan Oak
Oxford yang asri ternyata juga menjadi pilihan tempat bermukim William Faulkner, novelis Amerika Serikat pemenang Nobel Sastra tahun 1949. Faulkner, yang leluhurnya memang asli dari wilayah sekitar Oxford, membeli rumah kayu bergaya Yunani kuno pada tahun 1930, di atas tanah seluas empat acre yang dikelilingi cedar dan pohon kayu keras. Rumah itu kemudian dinamakannya “The Rowan Oak.”

Pohon rowan adalah simbol perlindungan dan perdamaian. Rowan Oak didiami oleh Faulkner bersama isterinya, Estelle, dan dua anak dari pernikahannya terdahulu. Seorang anak, Jill, lahir di rumah ini. Di Rowan Oak, lahir karya-karya terkenal Faulkner. Sebagian besar karya Faulkner konon diilhami oleh kisah-kisah lokal masyarakat Indian, budak-budak yang kabur, kolonel-kolonel tua, dan perawan-perawan uzur yang memberi kursus melukis keramik. Semua ini dipadukannya dengan memori dan kesannya sendiri sebagai seseorang yang beranjak matang di kawasan Selatan yang terbelah oleh perikehidupan tradisional dan perkembangan modern yang tak bisa dihindari. “Absalom! Absalom!”, “The Unvanquished”, dan “Knight’s Gambit” adalah beberapa karya yang dihasilkannya di rumah bersejarah ini. Faulkner, yang lahir pada tahun 1897, meninggal dunia di Rowan Oak pada tahun 1962. Sepuluh tahun kemudian, puterinya Jill menjual rumah tersebut ke University of Mississippi, dengan harapan agar tempat itu dikelola sehingga bisa dikunjungi orang dari seluruh dunia untuk mempelajari ayahnya dan karya-karya sang ayah.

Novelis kebanggaan Amerika, William Faulkner (1897-1962) (www.breezeofsouthern.com)

Gerald Strom, profesor politik dari Chicago yang menemani kami berkomentar bahwa karya-karya Faulkner sulit dipahaminya. Nah, kalau seorang profesor saja mengaku sulit, apalagi masyarakat biasa. Namun, fakta ini justru membuat saya jadi terkesan dan mengagumi Oxford. Biarpun karyanya sulit dipahami, William Faulkner bagaimanapun adalah warga kebanggaan Oxford. Karena itu, masyarakat dan pemerintah setempat berupaya menjadikan Oxford sebagai kotanya William Faulkner. Upaya ini tidak cuma dilakukan dengan merawat dan mengelola Rowan Oak. Tetapi juga mempromosikan tempat tersebut. Berkunjung ke Oxford, tidak lengkap kalau tidak mampir ke Rowan Oak. Persis seperti Chicago memamerkan Sears Tower sebagai ikonnya. Di Oxford, setiap tahun diadakan bermacam-macam simposium yang mendiskusikan William Faulkner maupun karya-karyanya. Salah satunya, saya baca di katalog, “Seks dalam Kehidupan dan Novel William Faulkner”! Salah satu bukti kecintaan warga Oxford pada William Faulkner juga terlihat dari banyaknya lukisan atau foto bagian depan Rowan Oak yang bergaya Yunani, dengan jalan kecil yang diteduhi pohon-pohon besar. Di Downtown Inn tempat saya menginap, baru saya sadari bahwa dua lukisan dalam kamar saya adalah sketsa tampak depan Rowan Oak dari pelukis-pelukis yang berbeda! Di ruang makan, bar, lobi hotel, lukisan serupa juga terpampang. Coba saja Anda berkunjung ke Oxford, di mana-mana Anda akan temukan lukisan atau foto Rowan Oak!

Rowan Oak. Lukisan atau foto semacam ini menjadi ikon kebanggaan Oxford, dan bisa Anda jumpai di mana-mana (www.squarebooks.com)

Tapi, sebenarnya, seperti apa sih Rowan Oak yang dibangga-banggakan Oxford? Rumah ini berlantai dua, terdiri dari 7 ruangan di lantai bawah dan 8 ruangan di lantai dua. Ruangan yang dibuka untuk umum adalah kamar William Faulkner, kamar isterinya (rupanya mereka tinggal tidak sekamar, namun ada penghubung antara kedua kamar), kamar putera-puterinya, perpustakaan, parlor (tempat Faulkner mengadakan acara-acara istimewa, termasuk pernikahan puteri dan keponakannya serta tempat persemayaman jenazah Faulkner sendiri), ruang makan, dan ruang kerja Faulkner.

Mesin ketik kuno yang dipakai Faulkner untuk menulis karya-karyanya. Termasuk barang-barang yang dipamerkan di Rowan Oak (www.olemiss.edu)

Kita boleh menyaksikan kamar-kamar itu dari pintu, tapi ada pembatas yang tak boleh dilalui pengunjung. Barang-barangnya tertata rapi, perabotannya kebanyakan kayu, antik, demikian juga taplak dan hiasannya. Yah, bayangkan saja rumah zaman kuno khas Selatan. Buku-buku Faulkner ditumpuk di atas rak, lukisan cat air isterinya (kebanyakan kuntum-kuntum bunga) dipajang di lorong dan kamar-kamar, bahkan sepatu berkuda Faulkner juga dipajang. Rumah ini tampak ‘hidup’—seolah-olah hanya ditinggalkan penghuninya barang sebulan-dua bulan untuk berlibur ke luar kota. Selain rumah Faulkner, rumah kecil Callie, pembantu keluarga Faulkner yang turun-temurun mengabdi juga termasuk yang dijadikan lokasi wisata. Plus kandang kuda dan taman kecil di belakang rumah.

Penulis berfoto di pintu masuk ruang kerja William Faulkner di lantai satu. Rak buku, foto-foto hitam putih leluhur Faulkner, stoples tembakau, kursi kesayangan, mesin tik bahkan tas kulit kuno mengisi ruangan ini (Dokumentasi: pribadi).

Seorang rekan berkomentar, tempat ini sebenarnya biasa saja—rumah neneknya lebih antik lagi karena dibangun di zaman Belanda, dan masih ditempati cucu-cicitnya. Kalau bukan karena William Faulkner yang menempatinya, Rowan Oak tidak bakal seistimewa ini. Saya setuju. Tapi, lagi-lagi, di situlah saya melihat profil sebuah masyarakat yang begitu menghargai salah satu warganya, karena telah mengharumkan nama wilayahnya. Duh, dapatkah kita yang di Indonesia ini menghargai sastrawan kita dengan cara seperti ini? Saya tinggalkan Rowan Oak, sekaligus Oxford, dengan perasaan bersalah pada Pram, Rendra, Taufik Ismail, HB Jassin ... (000)

1 komentar:

miris, kita masih sedikit memberi appresiasi pada para sastrawan. mengenal karyanya pun masih jarang.

tulisannya menarik bu.
salam