Sabtu, 04 Agustus 2007

Kita dan Rasisme Itu

KITA DAN RASISME ITU[1]


Gadis kecil itu bernama Aliena. Pada usia sembilan tahun, orangtuanya mengajaknya pindah –dari tanah kelahirannya ke sebuah pulau yang konon merupakan pusat kemajuan di negaranya. Mereka tidak memilih tinggal di Ibukota, tetapi di sebuah kota yang terkenal sebagai kota budaya, kota kuno yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keluarga dan tata nilai sosial. Sebuah kota yang menghargai pendidikan di atas segalanya. Sebuah kota yang betul-betul sempurna untuk membesarkan anak-anak yang diharapkan pandai dan berbudi luhur. Maka, sementara orangtuanya bekerja, Alienapun bersekolah di salah satu sekolah dasar di sana.

Aliena cerdas, supel, dan seperti anak seusianya, menyimpan rasa ingin tahu yang tinggi. Ia punya banyak fantasi tentang kehidupannya. Dan tak beda jauh dengan anak-anak manapun, ia menyimpan sisi kenaifan dan kepolosan tentang dunia dan manusia di sekitarnya—sesuatu yang umumnya telah tererosi dalam kehidupan manusia dewasa. Namun, justru di kota yang tampaknya ideal inilah dunia kanak-kanak Aliena yang indah dihancurkan oleh sejumlah peristiwa.

Peristiwa-peristiwa itu antara lain berlangsung di dalam kelas. Dalam sebuah mata pelajaran, Aliena berbeda pendapat dengan gurunya. Aliena bersikukuh mempertahankan pendapatnya karena ia merasa benar—seperti itulah didikan keluarganya. Bapak Guru tidak senang. Merasa otoritas dan kredibilitasnya terganggu, ia menyatakan ketidaksenangannya dalam wujud hinaan: “… Ah, dasar kamu anak pulau seberang! Kalian memang primitif dan tidak beradab! Tahu apa tentang ini?”

Aliena terperangah. Apa yang terjadi? Mengapa Bapak Guru bicara seperti ini? Ia hanya menyatakan perbedaan pendapat, tapi mengapa Pak Guru menuduhnya dengan kata-kata yang begitu susah dicerna, dan pastinya, melihat roman Pak Guru dan teman-teman yang menertawakannya, kalimat itu pastilah sesuatu yang buruk baginya!

Aliena, yang kini adalah seorang aktivis lingkungan berpendidikan master, mengenang saat-saat itu dengan pahit. “Saya berusaha mengaitkan kejadian itu dengan beberapa peristiwa lain,” katanya. Kali lain, ada Ibu Guru yang terus-terusan mengomentari rambutnya. “Kalian orang seberang, rambutnya aneh ya? Kok bisa keriting begitu sih? Lucu ya?” Besoknya, kulitnya yang jadi sasaran—“Ih, item banget!” Lusanya, gaya bicaranya, dan begitulah seterusnya. Semua dikomentari secara negatif. “Tadinya saya pikir Ibu Guru cuma bercanda. Atau mungkin ia malah tengah mengagumi saya. Tapi kemudian saya tahu, ia bicara begitu karena baginya saya memang benar-benar aneh, benar-benar berbeda…”

Setelah peristiwa itu, susul-menyusul dengan peristiwa lain, teman-teman Aliena mulai memandangnya dan memperlakukannya secara berbeda. Oh, tentu, ia masih diajak bermain, ia menjadi bagian dari aktor dan permainan dengan segala dinamikanya. Tapi, sedikit saja ia melanggar rules of the game, hal yang wajar-wajar saja sebenarnya dan dialami oleh siapapun, langsung teman-teman mengolok-oloknya dengan stereotip yang sama dengan yang diajarkan oleh guru-guru mereka di kelas. Sampai suatu ketika, Aliena tidak tahan lagi. Ketika gurunya lagi-lagi menyinggung stereotip ini—bahwa Aliena adalah bagian dari komunitas orang pulau seberang yang berkulit gelap, berambut keriting, berhidung pesek, jelek, bodoh, primitif, tak berbudaya—Aliena marah dan angkat protes. “Bukan mau saya dilahirkan seperti ini. Tapi, memangnya kenapa kalau saya seperti ini?” Guru kaget ada murid ‘bertingkah’ seberani itu di kelas pada dirinya, sekolah geger, kepala sekolah pun turun tangan, dan mereka berdua didamaikan. Didamaikan, artinya, “…saya harus minta maaf pada Bapak Guru itu,” tutur Aliena.

Aliena tidak pernah mengerti, saat itu, kenapa ialah yang justru harus minta maaf. Yang ia tahu, ia dianggap bersalah hanya karena ia dianggap berbeda …

Tigapuluh tahun lebih setelah peristiwa itu berlalu, Aliena masih tinggal di republik ini, yang sebagian besar masyarakatnya, sampai sekarang, tetap menganggap ia dan orang sesukunya begitu berbeda. Aliena kini adalah seorang aktivis lingkungan bergelar master, tergabung dalam sebuah organisasi konservasi internasional. Dikenal cerdas, kritis, dan berpendidikan tinggi. Ia dihormati oleh para kolega karena integritasnya yang tinggi dan komitmennya yang besar dalam memperjuangkan hak-hak asasi manusia terkait dengan isu-isu lingkungan hidup di tanah kelahirannya, Papua.

Ya, Aliena adalah warga Papua. Sebagaimana warga Papua lain, ia membawa ciri-ciri fisik ras Melanesia: berkulit gelap, berambut keriting, wajah bulat, perawakan nan gempal. Tapi, sungguh, kecuali itu, tak ada yang menjadikannya berbeda dibanding orang-orang Jawa, Sumatera, atau warga Indonesia lainnya. Aliena bermata bulat, hitam, besar, memancarkan kecerdasan dan kejernihan hati. Senyumnya lebar, manis, hangat dan menyejukkan—sama dengan senyum siapapun yang tersenyum berdasarkan ketulusan hati. Gerak-geriknya halus, lembut, indah. Suaranya lembut dengan intonasi mengesankan. Aliena biasa bicara dengan tempo lambat, tapi tegas dan teratur. Kata-kata yang keluar dari dirinya merefleksikan kecerdasan dan kebijaksanaan—sesuatu yang tak dimiliki, agaknya, oleh guru-gurunya terdahulu …

Apa yang dialami Aliena adalah pengalaman khas yang dialami oleh rekan-rekan kita dari Indonesia Timur, ketika datang ke Pulau Jawa. “Kami, di Papua, biasa bergaul dengan siapa saja. Orang Jawa, orang Cina, orang Barat, mereka kami perlakukan sama dengan warga suku kami. Kami baru menyadari bahwa kami ini berbeda, ya justru ketika kami datang ke pulau Jawa dan dianggap berbeda di sana,” tutur seorang rekan lain, juga dari Papua. Ia menuturkan pengalaman yang sama dengan Aliena. Dianggap aneh karena berambut keriting, berkulit gelap, berwajah Melanesia. Pembedaan ini terasa lebih nyata di ruang publik. Saat berjalan-jalan di gang, masih ada saja orang yang menyingkir, berbisik-bisik, atau terpana memandanginya. Saat ke mal, masih ada saja yang tidak welcome dengan kehadirannya. Padahal, ia punya hak sama dengan pengunjung mal dan calon customer lainnya.

Inilah rasisme, suatu praktik memperlakukan orang lain secara berbeda, dengan memberikan penilaian yang diukur berdasarkan karakteristik ras, sosial, atau konsep mental tertentu mengenai self. Rasisme menjadi masalah karena konsep ini tidak sekadar menjadi kategori pembeda, namun lebih dari itu, ditujukan untuk menegaskan superioritas satu pihak di antara pihak-pihak lainnya. Paul Spoonley dalam Ethnicity and Racism (1990) mencoba menelusuri jejak-jejak rasisme yang disimpulkan berasal dari konsep tentang ras. Konsep ras ini, sedari awal, diakuinya, memang bersifat problematis. “Race adalah sebuah konsep kolonialisme, yang muncul ketika semangat berekspansi melanda Eropa,” tutur Spoonley. Ras juga sebuah konsep “...yang mencerminkan kemalasan orang Eropa untuk berpikir ketika menghadapi keragaman manusia dalam perjalanan ekspansi mereka.” Biar gampang, sudahlah kita kategorikan saja orang-orang berdasarkan karakteristik fisiknya, begitulah pemikiran para pelaut dunia itu, yang merasa punya jasa membawa peradaban dan pencerahan manusia. Maka, diperkenalkanlah konsep ras dalam ranah interaksi sosiologis dunia. Ada orang India, orang Afrika, orang Cina, orang Melayu, orang Aborigin—lengkap dengan stereotip mereka masing-masing. Orang India yang licik dan tricky, Afrika yang kuat tapi bebal, Cina yang ceriwis dan mata duitan, Melayu yang malas dan lamban, Aborigin yang tolol dan jorok. Bersamaan dengan meluasnya stereotip ini, menyebar pula stereotip Eropa sebagai ras yang superior, civilized, dan karena itu, punya hak menentukan nasib bangsa lain yang dianggap sebagai ras yang inferior. Sebagai bagian dari ideologi kolonial, rasisme menjustifikasi eksploitasi kolonial secara ideologis. Namun pada intinya, di dalamnya hanya ada dua hal: penindasan dan kesombongan.

Pengalaman Aliena adalah pengalaman yang juga dialami oleh warga dunia lainnya. Paul Spoonley melacak kasus semacam ini yang menimpa warga keturunan Maori di tengah komunitas ‘putih’ Selandia Baru. Stuart Hall mencermati politik penjulukan (labelling) yang diprotes oleh warga kulit hitam Amerika Serikat—mereka berjuang menghapus label nigger yang dikaitkan dengan kebodohan dan kemiskinan, menggantinya dengan black is beautiful, black is power. Black Panther Movement. Hitam yang gagah dan anggun. Untuk kekuatan, kekuasaan, ... for pride. Dan siapa sih yang tak ingat dengan sejarah politik apartheid yang kini tumbang di Afrika Selatan? Nama besar seperti Nelson Mandela akan mengingatkan kita bahwa praktik semacam itu pernah ada.

Tapi, marilah tak usah jauh-jauh memandang. Rasisme adalah sikap dan konsep yang beroperasi dalam keseharian kita. Ia muncul tatkala adik kecil kita datang menangis tersedu-sedu karena kalah berkelahi, dan dengan kesal kita bilang, “... banci, lu!” Atau, tatkala kalah tawar-menawar dengan pedagang di pasar, yang berujung dengan “... dasar tauke pelit!” Atau, tatkala sebal menunggu teman yang sudah janjian jauh-jauh hari, diingatkan berulangkali, tapi tetap saja terlambat, “...duh, telat banget! Dasar cewek!” Seperti inilah bentuk-bentuk rasisme yang mewarnai ruang keseharian kita.

Begitulah, pembaca, rasisme memang konsep yang cair, mengambil bentuk yang berbeda-beda sepanjang waktu. Mulanya mewujud dalam bentuk prasangka antaretnis, prasangka antargender, lama-lama berkembang menjadi social prejudice. Hal ini diperburuk pula oleh pola asuh yang kita dapatkan. Tanpa sadar, kita yang dibesarkan dalam lingkungan asuhan bersifat askriptif primordial[2]—di mana nilai-nilai disosialisasikan berdasarkan perbedaan self and the other yang begitu tajam—kerap mengoperasionalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mengapa hal ini terjadi berlarut-larut, bahkan setelah kita memasuki lingkungan sosial yang berbeda-beda? “Racism is an ideology based on a degree of incorrect information combined with hostile attitudes toward a particular group,” ungkap Spoonley. Maka, bahaya rasisme berawal bukan dari mana-mana, melainkan dari incorrect information tentang pribadi-pribadi di sekitar kita. Sederhananya adalah ... karena kita malas mengenal orang di luar diri kita sendiri. Karena kita enggan keluar dari zona kenyamanan yang sudah diciptakan oleh lingkar pengetahuan yang kita miliki. Karena kita begitu egois, begitu narsis, begitu bebal menganggap bahwa orang-orang dapat diklasifikasikan ke dalam konsep mental tertentu yang mencukupi untuk menjelaskan segala sesuatu tentang dirinya—padahal, dimensi kemanusiaan dalam lingkup keragaman sosial sesungguhnya sangat kaya, unlimited.

Cerita Aliena, dan rangkaian kisah prasangka etnis maupun sosial lainnya, pada akhirnya melemparkan pertanyaan sederhana pada kita: sudah sejauhmana kita mengenal orang-orang di sekitar kita? Adilkah penilaian yang kita berikan pada mereka? Pada saat kita mengutuk rasisme bersama-sama, dengan jujur dan hati-hati kita perlu memeriksa diri. Jangan-jangan, rasisme itu juga ada dalam diri kita sendiri ...




Santi Indra Astuti
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung, Departemen Jurnalistik, tengah menempuh studi pascasarjana di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Saat ini terlibat dalam tahap akhir penelitian mengenai Nasionalisme Kontemporer di Indonesia: Kajian atas Konsep Nasionalisme di Empat Wilayah Konflik Indonesia.



[1] Tulisan ini menjadi pengantar buku “The History of Racism”, Fredrickson, terbitan Bentang (2005)
[2] Turnomo Rahardjo, dalam sebuah wawancara riset (14 Januari 2005)

0 komentar: